Posts

Menjembatani Dua Dunia (2)

Image
Gai Eaton's Islam and The Destiny of Man ( Sebelumnya ) Jalan saya panjang dan sulit. Saya lahir di Swis dari orang tua Inggris, anak perang. Saat saya lahir perjanjian perdamaian final yang mengakhiri Perang Dunia Pertama, perjanjian dengan Turki, ditandatangi di Lausanne. Badai dahsyat yang mengubah wajah dunia untuk sesaat kelelahan sendiri, tetapi efeknya tampak jelas di mana-mana. Keyakinan-keyakinan lama dan moralitas yang ditegakkan di atasnya tersungkur tak berdaya. Tetapi latar belakang keluarga saya berlumur darah konflik. Ayah saya, sudah 67 tahun saat saya lahir, adalah anak perang Krimea; ayahnya, kakek saya, lahir semasa perang melawan Napoleon Bonaparte. Keduanya tentara. Perang terakhir ini, disebut “Perang Besar” waktu itu, memorak-porandakan keluarga. Ibu saya sembilan bersaudara, tiga dari mereka laki-laki. Ketiga anak lelaki itu tewas, begitu juga para pemuda yang mungkin menikahi saudari-saudari mereka. Kalau saja situasinya berbeda, orang tua ib...

Menjembatani Dua Dunia (1)

Image
Ada satu faktor konstan dalam sejarah manusia sepanjang tiga belas abad terakhir. Itulah konfrontasi antara Islam dan apa yang dahulu disebut Dunia Kristen yang kini menjadi Dunia Barat sekuler. Selama periode relatif singkat imperialisme Eropa rivalitas antara dua Iman, dua kebudayaan, itu bisa dilupakan. Ketika “Perang Dingin” mendominasi percaturan politik internasional rivalitas dua iman itu kecil saja konsekuensinya. Kini rivalitas berurat mengakar itu muncul kembali ke permukaan, yang memang sudah disuratkan begitu cepat atau lambat karena Islam merasa punya misi universal sama halnya dengan peradaban Barat. Moto para sultan Utsmani “Satu Dunia, Satu Iman, Satu Penguasa” sekarang digaungkan dalam wacana “Satu Dunia” atau “Tata Dunia Baru” ( New World Order ). Tetapi dunia yang mana? Apakah hidup berdampingan yang damai dan bermanfaat itu mungkin? Tentunya ini bergantung pada pemahaman timbal balik dan, karena keputusan tergantung pada kekuasaan yang melaksanakannya, di ...

Sastra sebagai Sebuah Dunia (4)

Image
Pascale Casanova, penulis La R é publique mondiale des lettres   Sebelumnya Modernismo Sebagai Perebutan Kembali Ketimpangan sastra dan hubungan-hubungan dominasinya menyulut bentuk-bentuk pertarungan, persaingan dan pertandingan mereka sendiri. Tetapi pihak yang ditundukkan juga mengembangkan strategi khusus yang hanya bisa dipahami dalam kerangka kesusastraan, sekalipun itu bisa saja memiliki konsekuensi politis. Bentuk, inovasi, gerakan, revolusi dalam tatanan narasi bisa saja dibelokkan, ditangkap, dirampas atau dicaplok, dalam upaya menjungkirkan relasi-relasi kekuasaan kesusastraan yang sedang berlaku. Dalam persoalan inilah saya hendak menganalisis kebangkitan modernismo di negara-negara berbahasa Spanyol pada akhir abad ke-19. Bagaimana menjelaskan fakta bahwa gerakan ini, yang menjungkirbalikkan seluruh tradisi puisi Hispanik, didikte oleh seorang penyair dari Nikaragua, di tepi jauh imperium kolonial Spanyol? Rubén Darío, terpikat sejak kanak-...

Sastra Sebagai Sebuah Dunia (3)

Image
Sebelumnya Derajat Otonomi Ciri mendasar kedua dunia sastra adalah otonomi relatifnya. 22 Isu-isu yang mengemuka dalam domain politik tidak bisa diletakkan di atas, atau dirancukan dengan, isu-isu dalam ruang sastra, entah itu nasional atau internasional. Nampaknya sebagian besar teori kesusastraan kontemporer cenderung menciptakan hubungan pendek ini, terus-menerus mereduksi kesusastraan menjadi politis. Sebuah contoh yang menonjol adalah Kafka karya Deleuze dan Guattari, yang mengklaim telah menyimpulkan dari satu entri buku harian saja (25 Desember 1911), bukan cuma sebuah pendirian yang sangat politis—yang dengan demikian menegaskan bahwa Kafka benar-benar ‘pengarang politis’—tetapi juga sebuah visi politis yang menjiwai segenap karyanya. Berbekal sebuah frase yang diterjemahkan meleset dalam versi Prancis Diary Kafka, mereka berdua membangun sebuah kategori ‘sastra minor’ dan mengaitkan pada Kafka, lewat sebuah anakronisme sejarah yang mencolok, sebuah kesibukan...

Sastra Sebagai Sebuah Dunia (2)

Image
  (Sebelumnya) Melihat Lewat Perbatasan Tetapi mengapa perlu mulai dari hipotesis sebuah ruang sastra dunia dan bukan ruang yang lebih terbatas, yang lebih mudah ditandai batasnya—kawasan regional atau linguistik, misalnya? Mengapa memilih awal dengan mengkonstruksi domain kemungkinan paling luas, yang sangat mengundang risiko? Sebab untuk menyoroti bekerjanya dunia ini, khususnya bentuk-bentuk dominasi yang berlaku di dalamnya, dituntut penolakan terhadap kategori-kategori dalam pembagian nasional mapan; bahkan dituntut adanya mode berpikir trans-nasional atau antar-nasional. Begitu kita mengadopsi perspektif dunia ini, seketika kita bisa melihat bahwa perbatasan nasional, atau perbatasan linguistik, benar-benar menyingkap efek riil dominasi dan ketimpangan kesusastraan. Penjelasannya sederhana: sastra di seluruh dunia dibentuk mengikuti model nasional yang diciptakan dan dipromosikan Jerman pada akhir abad ke-18. Gerakan nasional sastra, yang menyertai pembentuk...

Sastra Sebagai Sebuah Dunia (1)

Image
Oleh: Pascale Casanova Pelanggan : Tuhan membuat dunia hanya dalam enam hari, dan kamu ... kamu bahkan tak bisa membuatkanku celana panjang dalam enam bulan! Penjahit : Tapi, Tuan, lihatlah apa yang terjadi pada dunia, lalu lihatlah celana Anda. dikutip oleh Samuel Beckett Jauh, jauh darimu sejarah dunia membentang, sejarah dunia jiwamu. Franz Kafka Tiga pertanyaan. Mungkinkah menjalin kembali ikatan yang sudah hilang antara sastra, sejarah dan dunia, sambil tetap memelihara pengertian penuh tentang keunikan teks-teks sastra yang mustahil ditawar? Kedua, bisakah sastra itu sendiri dipahami sebagai sebuah dunia? Kalau bisa, mungkinkah penjelajahan atas wilayahnya akan membantu kita menjawab pertanyaan nomor satu? Dirumuskan secara lain: mungkinkah menemukan sarana-sarana konseptual yang bisa dipakai untuk menandingi postulat sentral kritik sastra internal berbasis teks—keterpenggalan total antara teks dan dunia? Bisakah kita mengusulkan suatu per...

Ekspedisi Kutub (5) - TAMAT

Image
Annie Dillard's Teaching a Stone to Talk (Sebelumnya) Teknologi Pada abad kesembilan belas, seseorang menyimpulkan keberadaan Antartika. Sepanjang kurun itu, tidak seorang pun di bumi ini yang bisa memastikan ada tidaknya daratan di selatan, walaupun seorang Amerika bernama Charles Wilkes menyatakan pernah melihatnya. Beberapa ahli geografi dan penjelajah berpsekulasi bahwa di sana tidak ada daratan, yang ada cuma Lautan Antartika beku; sedangkan sebagian yang lainnya mengasumsikan adanya dua pulau besar di sekitar Kutub. Bahwa di sana ada sebuah benua, itu baru ditetapkan pada tahun 1935. Pada tahun 1893, seseorang yang bernama John Murray di hadapan Perhimpunan Geografi Kerajaan menyampaikan sebuah deduksi tentang benua Antartika. Kapal ekspedisinya, Challenger, tidak pernah terlihat di benua semacam itu. Deduksinya dikembangkan sepenuhnya dari aktivitas pengerukan dan pengukuran kedalaman perairan dengan suara. Dalam uraiannya dia memaparkan sebuah benu...