Menjembatani Dua Dunia (7)
( Sebelumnya ) Kadang-kadang saya lupa pada tekad saya untuk tidak terlibat dalam perbantahan yang tidak perlu. Beberapa tahun silam saya menjadi tamu sebuah perjamuan makan diplomatik di Trinidad. Perempuan muda yang duduk di sebelah saya sedang berbicara dengan pendeta Kristen, orang Inggris, yang duduk di hadapannya. Saya hanya mengikuti setengah pembicaraan mereka ketika mendengar perempuan itu mengatakan bahwa dia tidak yakin kalau dirinya percaya pada progres manusia. Pendeta itu menjawabnya dengan begitu kasar dan penghinaan sedemikian rupa hingga saya tidak mampu menahan godaan untuk mengatakan, “Dia benar, sangat benar—tidak ada itu yang namanya progres!” Si pendeta berpaling kepada saya, wajahnya dipenuhi amarah, dan berkata, “Kalau saya berpikiran begitu saya akan bunuh diri malam ini juga!” Karena bunuh diri adalah dosa besar bagi orang Kristen maupun umat Islam, untuk pertama kalinya saya menyadari sejauh mana keyakinan pada progres, pada “masa depan yang lebih bai...